Antara Surga Dan Orang Tua
![]() |
Ilustrasi Surga Dan Neraka https://www.madaninews.id |
Masa kecilku sudah erat
dengan kehidupan spiritual. Aku bersama tiga saudara lainnya tinggal di sebuah
desa dengan suasana yang masih sangat asri, memiliki kedua orang tua yang
senantiasa menuntun dalam kebaikan dan sahabat kecilku yang selalu mendorong
untuk belajar agama. Kami bertiga, aku, kakak, dan sahabat kecilku, panggil
saja ia Sutris, kami selalu pergi mengaji bersama setiap malam tanpa henti
meski hujan. Walau kedua orang tuaku bukan seorang muslim, ia seorang buddhis.
Namun, beliau sangat mendukung kami belajar mengaji. Sebenarnya aku tidak tahu,
apa itu ngaji dan terlebih mengenai agama. Aku hanya mengikuti ajakan sahabat
kecilku.
Di
siang hari sepulang sekolah, sahabat kecilku berlari mendekat. “Hai Budi, ayo
ikut ngaji, seru lo, kita belajar sholat dan turutan agar nanti bisa baca Alquran
kalau mati bisa masuk surga”. Aku dengan riang menerima ajakannya, lalu aku
izin dengan orang tua serta mengajak Kakaku, ia pun mau. Di hari pertama, kami
hanya bermodalkan sarung, belum punya peci
dan kami berdua di kasih pinjam peci oleh guru ngaji, dalam batinku “baik
sekali beliau”. Malam kedua aku baru punya kelengkapan untuk mengaji, setelah kedua
orang tuaku membelikannya dan ini adalah awal aku mulai belajar agama.
Malam
kedua aku ngaji, sebenarnya aku belum paham bahkan wudhu pun aku belum bisa,
jika ingat ini sampai sekarang aku malu sekali. Tapi guru ngaji dan sahabatku
tidak lelah mengajariku. Hingga suatu saat guru ngajiku bertanya:
“Budi, kamu
sudah bisa wudhu belum?”
“Belum”.
Jawabku. Nah, beliau dengan sabar mengajariku mulai cara wudhu hingga baca
turutan.
Setiap sore
pukul 17:30 kami datang dan pulang malam pukul 20:00, tanpa ada libur. Jika
sehari tidak ngaji rasanya ada yang kurang. Apa lagi saaat bulan Ramadan, waktu
yang kami nanti menikmati keseruan puasa menuju Idul Fitri, meski pun puasanya masih
puasa tengah hari karena ketika itu aku baru berusia lima tahun, sehingga guru ngajiku
dengan bijak mengajariku untuk puasa tengah hari saja.
Hari-hari aku lalui dengan bahagia bersama
kegiatanku dalam mengaji sampai usia sepuluh tahun, hingga suatu ketika aku
mulai bertanya dalam diriku. Aku dan kakakku sekian lama mengaji belajar membaca
buku turutan, tetapi kenapa belum diajarkan Alquran. Sedangkan teman-temanku
yang lain, termasuk sahabat kecilku sudah belajar membaca Alquran bahkan
angkatan dibawahku sudah diajarkan Alquran. Sejak saat itu aku mulia gelisah
dan malas jika mengaji karena keinginanku belajar Alquran belum tercapai.
Suatu
ketika aku mendiskusikan hal ini dengan kakak dan sahabatku, bahkan karena aku
tidak berani menanyakan langsung kepada guru ngaji, sahabatku mencoba membantu
menanyakan. Jawaban guru ngajiku “belum waktunya, teruslah belajar”. Aku sangat
senang dan kembali semangat untuk belajar mengaji.
Malam
hari ketika aku melihat teman-temanku di ruang sebelah belajar membaca Alquran,
seketika itu aku merasa sangat sedih dan kembali aku bertanya-tanya, mengapa
aku belum diizinkan belajar Alquran. Hingga akhirnya aku memberanikan diri
untuk bertanya.
“Pak, bisa minta
waktu untuk bicara?”. Tanyaku dengan hormat.
“Ia boleh,
silakan keruang sebelah”. Jawab beliau.
Dengan batin
yang riang, berharap mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keingianan, aku
mengajak kakakku menuju ruang sebelah dan beliau sudah menunggu kami berdua di
ruang itu serta mempersilakan kami duduk. Beliau menatap kami berdua kemudian dengan
lembut bertanya:
“Ada apa ya?”.
“Begini Pak, saya
mau bertanya. Mengapa kami berdua kok belum diajarkan membaca Alquran?”. Tanya
saya dengan sopan.
Beliau dengan
lembut menjawab “Begini, memang kalian sudah lama belajar mengaji dan bahkan
sudah bisa. Tetapi belum saya izinkan untuk belajar Alquran, jadi kalian terus
belajar ya!”.
“Lo kenapa Pak?”
Selahku di tengah jedah beliau berbicara.
“Jadi begini,
jika seseorang beragama Islam dan belajar mengaji Alquran, nanti jika mati akan
masuk surga. Nah, Ayah dan Ibumu itu beragama Buddha, kalau mati nanti masuk
neraka. Supaya kalian bisa sama-sama masuk surga, sebaiknya ajak orantuamu
masuk Islam”. Jawab beliau membuat kami tertegun diam. Kami pamit mengundurkan
diri karena kebetulan sudah pukul 20:00 waktunya pulang ke rumah.
Inilah
sebuah titik awal bagi Budi kecil untuk menentukan tuntunan hidup. Aku sedih,
kecewa dan bingung memilih antara surga, neraka, atau orang tua. Sejak pertemuan
itu hingga perjalanan kerumah, aku sedih dan bingung. Sampai di rumah tiba-tiba
muncul dalam batinku, “guru ngajiku baik, tapi tidak bijak”. Kalimat ini terus
terngiang-ngiang dalam batinku.
Esok
harinya aku dan kakaku tidak pergi mengaji dan malam itu menjadi hari di mana aku
harus membuat sebuah keputusan besar dalam hidup. Akhirnya, kuberanikan diri
menyampaikan keputusanku kepada orang tua, bahwa mulai besok aku akan ke
wihara. Mereka bertanya:
“Lho kenapa, kok
tidak mengaji malah mau ke wihara, terus itu peci, Alquran, dan sajadah yang
sudah di beli bagaimana?” Rupanya orang tuaku sudah menyiapkan semua itu
sebagai hadiah jika kami belajar Alquran.
Aku menjawab “Ia, kalau mati nanti aku tidak mau pisah, peci, Alquran, dan sajadah disumbangkan saja ke Masjid”. Jawabku singkat.
Sekarang jika mengingat hal itu, Aku sangat bersyukur di usia kecil Aku harus mengambil keputuan yang besar, hingga Aku sekarang menjadi seorang biku dan memahami bahwa “surga dan neraka bukan soal predikat agama, tetapi kemurnian moralitas semata dihadapan Yang Maha Kuasa”. Terima kasih mendalam untuk semua pelajaran dari beliau guru ngaji yang menginspirasi.
Sekelumit kisah ini, telah diterbitkan dalam sebuah buku antologi dengan judul "The Story Of Life Achievement" di tulis bersama para sahabat dari lintas agama dan profesi. Diterbitkan oleh Edu Learning Academy.
Namobuddhaya, bhante...
BalasHapusTerimakasih atas inspirasinya.
🙏🙏🙏
Luar biasa, sy masih d berikan kesempatan u/ membaca tulisan2 bhante...