ENAM BAHAYA MINUMAN BERALKOHOL


Oleh: Nyanasila, Thera.

Salah satu dari lima latihan dalam berperilaku baik bagi kita yang telah menyatakan berlindung kepada Buddha adalah “melatih diri menghindari minuman yang memabukan” (A.iv.220). Minuman ini kita sebut sebagai alkohol. Apa sebenarnya yang disebut sebagai alkohol dan bahaya apa yang didapakan ketika mengkonsumsi minum ini.

Alkohol yang diproduksi melalui proses fermentasi, apabila dikonsumsi akan menekan sistem saraf pusat dan memabukkan. Kata alkohol berasal dari bahasa Arab al yang berarti ‘itu’ dan kahal yang berarti ‘collyrium’ dan merupakan istilah kimia. Minuman alkohol umumnya dikelompokkan menjadi tiga tipe berbeda, yakni:

1.    Bir terbuat dari biji padi-padian yang difermentasi.

2.    Anggur terbuat dari buah-buahan yang difermentasi.

3.    Minuman keras terbuat dari sulingan bir atau pun anggur.

Dari bahan-bahan di di atas menghasilkan empat macam minuman alkohol sebagaimana disebutkan dalam kitab Tripitaka:

1.    Surā dibuat dari beras atau tepung (Sn. 398); Vin.i.205).

2.    Meraya adalah alkohol sulingan terbuat dari gula atau buah-buahan dan terkadang ditambahi rasa dengan gula, merica, atau kulit kayu pohon tertentu (M.i.238).

3.    Majja terbuat dari madu.

4.    Asava terbuat dari sari palmyra palm atau kurma liar yang merupakan hasil pemasakan atau pun penyulingan (Vin.i.294).

Banyak kebudayaan yang meyakini mitos untuk menjelaskan sifat alamiah alkohol yang seringkali memahaminya bahwa itu merupakan hadiah dari para dewa. Dalam kitab Jātaka terdapat cerita yang menjelaskan asal alkohol dengan tanpa melebih-lebihkan dan lebih masuk akal.

“Dahulu kala disebuah hutan, ada sebuah pohon buah dengan batang besar bercabang dan terdapat cekungan. Air hujan terkumpul dalam cekungan tersebut, buah jatuh ke dalamnya dan akibat kehangatan sinar matahari mulai terjadi fermentasi. Pada musim panas, burung-burung yang kehausan minum dari cekungan pohon tersebut, menjadi mabuk, jatuh ke tanah dan setelah tidur bebrapa saat kembali terbang. Seorang pemburu mengamati hal ini dan mencari tahu penyebabnya. Ia pun meminum cairan tersebut dan menjadi mabuk. Ia kemudian memperkenalkan hal tersebut kepada teman-temannya dan sejak saat itu alkohol dikenal” (J.v.12-20). Sejak adanya penemuan ini alkohol menjadi salah satu penyebab penyakit sosial yang menumbulkan kerugian besar, bahkan kesehatan badan dan batin.

Sebagai umat Buddha, kita patut bersyukur karena satu dari lima latihan yang wajib dipraktikan adalah menghindari minuman alkohol atau obat-obatan yang menyebabkan kecanduan. Mengapa ini menjadi latihan yang wajib bagi umat Buddha?

Mari kita coba pahami antara efek alkohol dan tujuan dari Ajaran Buddha. Alkohol memiliki efek memabukkan yang mengaburkan batin, sementara keseluruhan inti Ajaran Buddha adalah mencerahkan batin. Dua hal yang sangat bertentangan dari segi efek alkohol dan tujuan dari inti Ajaran Buddha.

Sumber: https://www.google.com
 
Selain itu, minuman alkohol dapat mengakibatkan kerugian pribadi dan kerugian sosial lainnya. Hal ini sebagaimana yang telah disampaikan Buddha, bahwa terdapat enam bahaya minuman beralkohol, yakni 1) kehilangan kekayaan 2) meningkatkan potensi perselisihan 3) penurunan kesehatan 4) merusak nama baik 5) membodohi diri sendiri 6) merusak kecerdasan (D.iii.182). 

Jika seseorang melanggar latihan motalitas  kelima, maka hal ini dapat dengan mudah mengarah pada pelanggaran moralitas lainnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

PADEPOKAN MEDITASI BUDDHAYANA

YUK, KITA BANTU! GOTONG ROYONG RP.10.000

TRADISI PEMBEBASAN SATWA OLEH UMAT BUDDHA